Nama    :  Noer Wasiti Deswantari

NRP       : H24100126

Laskar   :  20

                Inspirasi, kita memang jarang menyadari bahwa seseorang yang berada di sekeliling sudah menjadi inspirasi bagi kita. Inspirasi ini saya dapatkan dari seorang temanku yang terlihat biasa saja. Anggap saja namanya Suci, seseorang yang  baru saya kenal ketika masuk IPB. Setelah beberapa minggu saling mengenal, saya baru tahu dari cerita temanku yang lain bahwa dia merupakan anak yang kurang mampu. Awalnya saya tidak menyangkanya karena dia bergaul bersama teman-teman yang lain tanpa merasa minder. Bahkan dia temasuk anak yang asyik dan menyenangkan dalam bergaul. Saat matrikulasi berlangsung dan menjelang UTS, dia sangat tekun belajar dan dapat membagi waktu kapan saat belajar dan kapat saat bercanda bersama teman-temannya. Ketika mengetahui hasil UTS, saya sedikit merasa kecewa, tapi melihat keinginan belajarku hasil UTS tersebut memang sangatlah wajar. Tapi saat mengetahui Suci mendapatkan nilai lebih bagus, hal itu sedikit menyentil perasaan untuk belajar lebih giat.

                Tapi berubah itu bukanlah hal yang mudah. Minggu-minggu UAS baru dimulai, agar nilai meningkat saya memutuskan ikut bimbel bersama teman-teman yang lain. Namun sayangnya, ketika ikut bimbel saya mengurangi waktu untuk melatih soal-soal sendiri karena merasa sudah cukup ilmu yang didapat ketika bimbel. Hari-hari semakin mendekati UAS, seperti biasa saya masih menggunakan sistem ketika SMA yaitu SKS (Sistem Kebut Semalam). Saya merasa nilai UAS akan lebih baik dari nilai UTS. Tapi dugaan itu salah ketika melihat hasilnya yang semakin menurun daripada hasil UTS kemarin. Hal itu  membuat saya merenung. Ditambah lagi ketika melihat hasil UAS ada Suci yang sedang melihat hasil UAS juga. Saya bertanya, “Berapa nilai UAS nya Ci ?” dan jawabaanya semakin membuatku semakin lemas. “Alhamdulillah saya dapet A lagi” jawabnya sambil tersenyum. Dan beberapa hari setelah pengumuman itu Suci mendapatkan beasiswa. Betapa beruntungnya dia pikirku.

                Beberapa hari saya merenung. Apa yang salah dalam diriku, perekonomian keluargaku bisa dibilang sangat mencukupi. Belajar tinggal belajar tanpa memikirkan biaya. Tapi mengapa tidak bisa melebihi temanku yang perekonomiannya kurang mampu. Suci yang tidak mengikuti bimbel bisa melebihi yang bimbel. Ternyata saya baru menyadari yang salah dalam diriku adalah diriku sendiri. Karena kurangnya kemauan dalam mengejar sesuatu dan kurangnya usaha. Sehingga apa yang didapat sesuai dengan proses yang kita lakukan sebelumnya. Pengalaman tersebut sangat mengispirasi diriku untuk lebih giat lagi dalam belajar dan mempunyai target dalam hidup sehingga apa yang dilakukan mempunyai tujuan. Selain itu ia menginspirasiku untuk lebih ramah dalam bergaul bersama teman-teman yang lain.